bahasa indonesia dan pemafaatan pada tataran non ilmiah

Pemanfaataan Bahasa Indonesia dalam tataran non ilmiah dimaksudkan penulisan yang tidak terikan pada ragam bahasa baku. Contoh dari penulisan non ilmiah adalah : anekdot, editorial, opini, reportase, dll.

 

contoh editorial :

Bangsa ini benar-benar “bangsa tempe”. persoalan perut pun selalu menjadi masalah setiap saat. setelah didera urusan kenaikan harga beras,kali ini naiknya harga kedelai membuat khalayak kelimpungan. ini bukti bahwa kita belum bisa mengurus sektor pertanian dengan baik.

Harga kedelai melambung hingga dua kali lipat. kedelai yang biasanya dijual Rp 3.000 per kilogram melonjak menjadi Rp 6.000 per kg, bahkan ditempat-tempat tertentu menjadi Rp 8.000 per kg. Ribuan pengusaha kecil membuat tahu dan tempe menjerit. Rakyat juga berteriak karena semakin sulit mendapatkan pemasok protein yang murah.

Gonjang-ganjing itu dipicu oleh melmbungnya harga kedelai dipasar internasional. Produksi kedelai dunia memang melemah. Indonesia yang hampir separuh kebutuhan kedelainya dipenuhi lewat impor langsung terpukul. Menurut Badan Pusat Statistik, kebutuhan kedelai nasional mencapai 1,3 juta ton setahun. pada hal negeri ini, tahun ini cuma bisa memproduksi 620ribu ton, sisanya impor.

Pemerintah memang sudah berusaha mengatasi gejolak harga ini dengan menghapuskan bea masuk kedelai,dari semula 10 persen menjadi nol persen. sebuah langkah bagus yang patut dipuji.

Hnya, langkah itu terapi sementara. Pasar kedelai impor yang dikuasai empat importirbesar, yakni Cargill, Teluk Intan, Liong Seng, dan Gunung Seru tak akan serta-merta menurunkan harga. Pemerintah seharusnya meminta bulig ikut terjun mengimpor kedelai untuk sementara. tanpa kehadiran Bulog atau perusahaan lain, empat importir tersebut akan leluasa mengatur harga.

Adapun untuk solusi jangka panjang, pemerintah mau tak mau harus menggenjot produksi kedelai dalam negri. Petani selama ini ogah menanam kedelai karna margin keuntungannya kelewat kecil. menurut perhitungan Diretur Jendral Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso, karena rendahnya hasil panen kedelai, petani cuma bisa mendapat untung Rp 1 juta per hektar selama satu musim tanam atau sekitar tiga bualn.

Bandingkan dengan laba bila menanam jagung, yang mencapai Rp5-6 juta per hektar untuk jangka yang sama. jangan heran bila tahun ini produksi kedelai lebih rendah 127 ribu ton per tahun dibanding produksi tahun lalu, yang mencapai 747 ribu ton.

Harus ada kemauan kuat dari pemerintah untuk mengatasi hal ini,misalnya mengatrol jumlah produksi lewat penyebaran benih unggul yang merata keseluruh daerah. selama ini produksi kedelai hanya disokong oleh sebagian kecil provinsi, salah satunya Jawa Timur, yang memasok 440 ribu ton kedelai per tahun.

Pada saat yang sama, pemerintah harus memperbaiki tata niaga kedelai karna petani kedelai selama ini mendapatkan margin keuntungan paling kecil.Mereka cuma bisa menjual Rp 3.000 per kg. Padahal, menurut hitungan Departemen Pertanian, idealnya petani bisa memasang harga Rp 4.500 per kg.

Negeri ini punya tanah subur dan sumber air yang melimpah. sudah selayaknya Indonesia sebagai negara agraris memperkuat kembali sektor pertanian. mari kita buktikan, walau menyukai tempe, bangsa ini bukan “bangsa tempe”.

referensi :

http://naninblogspot.blogspot.com/2008/10/contoh-editorial.html

 

http://ruwana.blogspot.com/2010/11/pemanfaatan-bahasa-indonesia-pada_05.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: